Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2782655
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
914
1629
5637
2712337
37591
45614
2782655
Your IP: 54.162.118.107
Server Time: 2018-10-17 10:03:29

Safrowi Ahmad @ 2 Januari 2014


Assalamu alaikum . Bagaimana pengertian hadist

:

من عرف نفسه فقد عرف ربه


jelaskan beserta takwil dan komentar ulama salaf mngenai hadis ini mksih

=========

JAWABAN:

 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah pengertian hadits من عرف نفسه فقد عرف ربه ?

Maka dalam menanggapi pertanyaan yang telah diutarakan oleh sahabat fillah Safrowi Ahmad tersebut diatas, kami segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut:

Imam Abdurrahman Ibnu Abi Bakr; Jalaluddin Al Suyuthi didalam kitabnya Al Chawi Lil Fatawa menyatakan bahwa: Mengenai hadits tersebut (من عرف نفسه فقد عرف ربه) terdapat beberapa pernyataan:

I. Pernyataan pertama menyatakan bahwa hadits ini adalah bukan hadits shahih. Imam Al Nawawi juga pernah ditanya tentang hadits ini dan beliau menjawab bahwa hadits ini (adalah) tidak shahih (tsabit). Bahkan Imam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa ini adalah hadits maudlu’. Imam Al Zarkasyi mengutip pernyataan Imam Al Sam’ani yang mengungkap bahwa itu adalah perkataan Imam Yachya Ibnu Mu’adz Al Razi.

II. Pernyataan kedua adalah mengenai arti hadits tersebut. Didalam Fatawanya Imam Al Nawawi menyatakan bahwa arti hadits tersebut adalah “Barang siapa mengenal, mengetahui dan menyadari kelemahan dirinya serta kebutuhannya terhadap Allah, juga menyadari kepatuhan kepada Allah sebagai seorang hamba, maka ia akan mengenal dan mengetahui tuhannya dengan segala kekuatan, sifat ketuhanan dan kesempurnaan yang absolut serta kemuliaan sifat-sifatnya.” Al Suyuthi juga mengutip pernyataan Syaikh Tajuddin Ibnu Atha’illah didalam kitabnya Lathaif Al Minan yang menyatakan bahwa beliau pernah mendengar gurunya Abu Al Abbas dalam berkomentar mengenai hadits tersebut. Beliau menyatakan bahwa hadits ini memiliki dua tafsir:

• Pertama: Orang yang mengenali dirinya dengan segala kehinaan, kelemahan dan kemiskinannya, maka ia akan mengenal Allah dengan segala kemuliaan, kekuasaan dan kekayaanNya. Maka mengenali diri adalah yang pertama untuk kemudian ia akan mengenali Allah sebagai tuhannya.

• Kedua: Sesungguhnya orang yang mengenali dirinya, maka hal itu menunjukkan bahwa ia telah benar-benar mengenal Allah dalam dua dimensi. Yaitu: pada saat menapaki jalan menuju Allah (thariqat) dan pada saat gila karena kecintaan terhadap Allah (jadzab).

Al Suyuthi juga mengutip pernyataan Imam Abu Thalib Al Maki didalam kitabnya “Qut Al Qulub” dalam mengurai arti hadits tersebut. Beliau menyatakan bahwa “Ketika kamu mengetahui dan menyadari tentang sifat-sifat yang melekat pada dirimu dalam berperilaku sebagai mahluk dan engkau enggan untuk disanggah serta diprotes dalam segala aktifitasmu, engkau juga enggan untuk dicela atas semua hasil karyamu, niscaya engkau akan mengetahui dan mengenal sifat-sifat tuhan yang telah menciptakanmu. Dan sesungguhnya Allah juga enggan diperlakukan seperti itu. Maka bersikaplah rela dengan semua ketentuan Allah. Beramallah untuk Allah dengan sesuatu yang apabila amal tersebut dilakukan, niscaya engkau akan mencintainya.” Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

وَفِيهِ مَقَالَاتٌ:
الْمَقَالُ الْأَوَّلُ: إِنَّ هَذَا الْحَدِيثَ لَيْسَ بِصَحِيحٍ، وَقَدْ سُئِلَ عَنْهُ النووي فِي فَتَاوِيهِ فَقَالَ: إِنَّهُ لَيْسَ بِثَابِتٍ، وَقَالَ ابن تيمية: مَوْضُوعٌ، وَقَالَ الزركشي فِي الْأَحَادِيثِ الْمُشْتَهِرَةِ: ذَكَرَ ابن السمعاني: إِنَّهُ مِنْ كَلَامِ يَحْيَى بْنِ مُعَاذٍ الرَّازِيِّ.
الْمَقَالُ الثَّانِي فِي مَعْنَاهُ: قَالَ النووي فِي فَتَاوِيهِ: مَعْنَاهُ مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ بِالضَّعْفِ وَالِافْتِقَارِ إِلَى اللَّهِ وَالْعُبُودِيَّةِ لَهُ عَرَفَ رَبَّهُ بِالْقُوَّةِ وَالرُّبُوبِيَّةِ وَالْكَمَالِ الْمُطْلَقِ وَالصِّفَاتِ الْعُلَى، وَقَالَ الشَّيْخُ تاج الدين بن عطاء الله فِي " لَطَائِفِ الْمِنَنِ ": سَمِعْتُ شَيْخَنَا أبا العباس المرسي يَقُولُ: فِي هَذَا الْحَدِيثِ تَأْوِيلَانِ: أَحَدُهُمَا: أَيْ مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ بِذُلِّهَا وَعَجْزِهَا وَفَقْرِهَا عَرَفَ اللَّهَ بِعِزِّهِ وَقُدْرَتِهِ وَغِنَاهُ، فَتَكُونُ مَعْرِفَةُ النَّفْسِ أَوَّلًا ثُمَّ مَعْرِفَةُ اللَّهِ مِنْ بَعْدُ.
وَالثَّانِي: أَنَّ مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ دَلَّ ذَلِكَ مِنْهُ عَلَى أَنَّهُ عَرَفَ اللَّهَ مِنْ قَبْلُ، فَالْأَوَّلُ حَالُ السَّالِكِينَ، وَالثَّانِي حَالُ الْمَجْذُوبِينَ. وَقَالَ أَبُو طَالِبٍ الْمَكِّيُّ فِي " قُوتِ الْقُلُوبِ ": مَعْنَاهُ إِذَا عَرَفْتَ صِفَاتِ نَفْسِكَ فِي مُعَامَلَةِ الْخَلْقِ وَأَنَّكَ تَكْرَهُ الِاعْتِرَاضَ عَلَيْكَ فِي أَفْعَالِكَ وَأَنْ يُعَابَ عَلَيْكَ مَا تَصْنَعُهُ عَرَفْتَ مِنْهَا صِفَاتِ خَالِقِكَ، وَأَنَّهُ يَكْرَهُ ذَلِكَ فَارْضَ بِقَضَائِهِ وَعَامِلْهُ بِمَا تُحِبُّ أَنْ تُعَامَلَ بِهِ. الحاوي للفتاوي . الجز 2. صفحة 288.

 

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:

قلت والمعنى الصحيح له كما قرر كثير من السلف الصالح كما قال النووي في فتاويه : ليس هو بثابت (يقصد سند الحديث)؛ ولو ثبت كان معناه من عرف نفسه بالضعف والافتقار إِلى الله تعالى، والعبودية له، عرف ربه بالقوة، والقهر، والربوبية، والكمال المطلق، والصفات العليا.ومن عرف ربه بذلك كَلَّ لسانُه عن بلوغ حقيقة شكره، والثناءِ عليه كما ثبت في "صحيح مسلم" وغيره أن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال: "سبحانَك لا أحصي ثناء عليك، أنت كما أثنيت على نفسك". "والله أعلم" فتاوى النووي . الجز 1. صفحة  178

 

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:

حديث: من عرف نفسه فقد عرف ربه، قال أبو المظفر ابن السمعاني في الكلام على التحسين والتقبيح العقلي من القواطع أنه لا يعرف مرفوعاً، وإنما يحكي عن يحيى بن معاذ الرازي يعني من قوله، وكذا قال النووي: إنه ليس بثابت، وقيل في تأويله من عرف نفسه بالحدوث عرف ربه بالقدم ومن عرف نفسه بالفناء عرف ربه بالبقاء. المقاصد الحسنة . الجز 1. صفحة  220.  بترقيم الشاملة آليا.

 

 

Referensi:
1. Al Chawi Lil Fatawa. II/ 288
2. Fatawa Al Nawawi. 178
3. Al Maqashid Al Chasanah. 220

=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:
1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
2. Al-Ustadz Wes Qie
3. Al-Ustadz Abdul Malik
4. Al-Ustadz Mbah Sanidin
5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah