Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2882163
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
606
1230
6522
2809480
20426
48266
2882163
Your IP: 34.228.41.66
Server Time: 2018-12-13 10:35:47

Maria Fauzi @ 15 Maret 2016 

Assalamu'alaikum... Para asatidz. Nderek tanglet, titipan teman saya. Teman saya itu punya masalah gusi yang sering berdarah. Yang akhirnya juga sering tertelan. Nah, gimana hukumnya menelan ludah yg bercampur darah pada saat puasa, sholat dan di luar itu? Mengingat darah itu hukumnya najis. 

~~~~~~~~~ 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

“Bagaimanakah hukum menelan ludah yang bercampur darah pada saat berpuasa dan shalat?” 

Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin bin Ali bin Ahmad al Malibary di dalam kitabnya (Fathu al Mu’in) menjelaskan bahwa menelan ludah yang suci dari sumbernya adalah tidak membatalkan puasa walaupun setelah dikumpulkan menurut pendapat yang lebih autentik (ashah), dan walaupun pengumpulan tersebut dirangsang dengan mengunyah semacam kemenyan mustaka. Dan jika ludah tersebut terkumpul dengan sendirinya, maka menelananya tidak berbahaya secara pasti. Dan dikecualikan dari ludah yang suci yaitu ludah yang terkena najis dengan semisal darah gusi, maka menelannya dapat membatalkan puasa, sekalipun ludah tampak bersih dan jernih serta tidak berbekas, karena terdapat larangan untuk menelannya, maka statusnya seperti benda tampak yang berasal dari yang lain. Guru kami (Imam Zakaria bin Muhammad bin Ahmad al Anshari, شيخنا) menyatakan bahwa jelas menjadi suatu hal yang dimaklumi dan ditolelir (ma’fu) bagi orang yang mengalami pendarahan pada gusinya sekira tidak mungkin terjaga dari hal tersebut. Sebagian ilmuan menyatakan bahwa ketika seseorang tertimpa penyakit semacam itu menelan, sedang ia tau dan sadar namun tidak mampu menghindarinya, maka puasanya sah. 

Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al Haitami di dalam kitabnya (Tuhfah al Muhtaj) juga menyatakan bahwa telah dipaparkan terdahulu dari Imam Ali bin Ali al Syibramulisi (ع ش) yang menyatakan bahwa sesungguhnya jika seseorang ditimpa pendarahan dari gusi dengan mengeluarkan banyak darah sekira tidak dapat dihindari, maka hal itu ditolelir. 

Dengan demikian, hukum puasa dan shalat orang yang menelan ludah yang bercampur darah akibat iritasi pada gusi adalah batal kecuali pendarahan tersebut terjadi secara terus menerus dan sulit untuk menghindarinya, maka dimaklumi (ma’fu) dan puasa serta shalat dinyatakan tetap sah. 

“Lalu bagaimana dengan diluar puasa dan shalat?” 

Di dalam sebuah literatur Fiqh karya Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al Haitami (Tuhfah al Muhtaj) disebutkan sebuah pemaparan oleh Imam Ibnu Qasim al ‘Ubbadi yang menyatakan bahwa tidak diperbolehkan menelan sesuatu, meliputi ludah (berdasar adat) sebelum mensucikan mulut, dan hal itu masih ditolelir jika terdapat kesulitan/masyaqat (untuk menjaga dan mencegah) serta masih murni. 

Imam Syamsuddin; Muhammad bin Abi al Abbas; Ahmad bin Hamzah; Syihabuddin al Ramli di dalam kitabnya (Nihayah al Muhtaj) juga mengulas pernyataan Imam al Syibramalisi yang menyatakan bahwa jika gusi yang mengalami pendarahan tersebut mengenahi dan mencampuri makanan, maka apakah hal itu juga ditolelir karena sulit untuk menghindari? atau tidak dikarenakan besarnya kemungkinan untuk tidak mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh darah? Hal ini dipertimbangkan, namun yang jelas, yang semacam itu tidak ditolelir, karena secara global, dalam kondisi semacam ini tidak dalam kategori musibah dan diprediksi adanya kemungkinan untuk mensucikan mulut walaupun terdapat kesulitan.  

Dengan demikian, hukum ludah yang bercampur darah akibat iritasi pada gusi adalah dimaklumi dan ditolelir jika sulit untuk menghindarinya, namun tidak demikian (tidak ditolelir) jika mengenahi makanakan yang dikonsumsi menurut sebagian Ulama’, namun sebagian Ulama’ yang lain menyatakan bahwa hal itu juga ditolelir dan dimaklumi. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori: 

و ( لا ) يفطر ( بريق طاهر صرف ) أي خالص ابتلعه ( من معدنه ) وهو جميع الفم ولو بعد جمعه على الأصح وإن كان بنحو مصطكى  أما لو ابتلع ريقا اجتمع بلا فعل فلا يضر قطعا  وخرج بالطاهر المتنجس بنحو دم لثته فيفطر بابتلاعه وإن صفا ولم يبق فيه أثر مطلقا لأنه لما حرم ابتلاعه لتنجسه صار بمنزلة عين أجنبية قال شيخنا ويظهر العفو عمن ابتلي بدم لثته بحيث لا يمكنه الاحتراز عنه  وقال بعضهم متى ابتلعه المبتلى به مع علمه به وليس له عنده بد فصومه صحيح . فتح المعين - (ج 2 / ص 231)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori: 

وَتَقَدَّمَ عَنْ ع ش أَنَّهُ لَوْ اُبْتُلِيَ شَخْصٌ بِدَمْيِ اللِّثَةِ بِأَنْ يَكْثُرَ وُجُودُهُ مِنْهُ بِحَيْثُ يَقِلُّ خُلُوُّهُ عَنْهُ يُعْفَى عَنْهُ ا هـ . تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 3 / ص 390)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

[حاشية ابن قاسم العبادي] قَوْلُهُ وَلَا يَجُوزُ لَهُ ابْتِلَاعُ شَيْءٍ قَبْلَ تَطْهِيرِهِ) شَامِلٌ لِلرِّيقِ عَلَى الْعَادَةِ وَهُوَ مُحْتَمَلٌ وَيُحْتَمَلُ الْمُسَامَحَةُ بِهِ لِلْمَشَقَّةِ وَكَوْنُهُ مِنْ مَعْدِنٍ خَلَقَتْهُ . تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (1/ 321)

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

[حاشية الشبراملسي] وبقي ما لو كانت تدمى لثته من بعض المآكل بتشويشها على لحم الأسنان دون بعض، فهل يعفى عنه فيما تدمى به لثته لمشقة الاحتراز عنه أم لا لإمكان الاستغناء عنه بتناول البعض الذي لا يحصل منه دمي اللثة؟ فيه نظر. والظاهر الثاني لأنه ليس مما تعم به البلوى حينئذ، وبتقدير وقوعه يمكن تطهير فمه منه وإن حصل له مشقة لندرة ذلك في الجملة . نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (1/ 260)

 

Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

(مسألة : ك) : ابتلي بخروج دم كثير من لثته أو بجروح سائلة أو بواسير أو ناصور واستغرق جل أوقاته ، لزمه التحفظ والحشو بوضع نحو قطنة على المحل ، فإن لم ينحبس الدم بذلك لزمه ربطه إن لم يؤذه انحباس الدم ولو بنحو حرقان وكان حكمه حكم السلس ، لكن لا يلزمه الوضوء لكل فرض ، ويعفى عن قليل الدم وإن خرج من المنافذ كما قاله ابن حجر ، خلافاً لـ(م ر) لكن قاعدته العفو مما يشق الاحتراز تقتضي العفو هنا أيضاً ، وتصح صلاته ووضوؤه ولا قضاء ، ويعفى عما يصيب مأكوله ومشروبه للضرورة. . بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 108) 

 

 

Daftar Pustaka:

1. Fathu al Mu’in. II/ 231

2. Tuhfah al Muhtaj. III/ 390

3. Tuhfah al Muhtaj. I/ 321

4. Nihayah al Muhtaj. I/ 260

5. Bughyah al Mustarsyidin. I/ 108

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Sakera

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: 

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I

 

Link Diskusi: Disini