Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2887179
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
897
1998
11538
2809480
25442
48266
2887179
Your IP: 3.80.177.176
Server Time: 2018-12-16 13:09:26

Iponk Ilegan Langkap @ 3 Juni 2014

Assalamu alaikm. Wr. Wb. 

Mo tanya: Adakah tuntunan islam untk mengerjakan solat syakban seperti halnya tradisi yg berlaku di masjid pada stiap tahun. Yaitu pada pertengahan bulan sakban. Mohon penjelasanya. 

~~~~~~~~~

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

Adakah tuntunan mengerjakan shalat nishfus Sya’ban? 

Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyathi menyatakan bahwa shalat Sya’ban adalah melaksanakan shalat pada malam tanggal 15 bulan Sya’ban sebanyak seratus raka’at dengan satu kali salam pada setiap dua raka’at dan membaca surat al Ihlas sebanyak sebelas kali pada setiap raka’at usai membaca surat al Fatihah. Atau jika menghendaki melaksanakan shalat sebelas raka’at dan membaca surat al Ihlas sebanyak seratus kali pada setiap raka’at usai membaca surat al Fatihah. Al-Dimyathi juga menyatakan bahwa shalat ini juga dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Dan mereka menyebutnya sebagai "shalat kebajikan". Mereka berkumpul dan bahkan terkadang dilakukan secara berjama’ah. Diceritakan dari Hasan al Bashri rahimahullah, sesungguhnya beliau berkata bahwa telah bercerita kepadaku 30 orang dari kalangan sahabat-sahabat Nabi yang menyatakan bahwa “Sesungguhnya orang yang melaksanakan shalat ini pada malam ini (tanggal 15 Sya’ban), maka Allah akan memandangnya (dengan pandangan kasih sayang) sebanyak tujuh puluh kali dan pada setiap pandangan, Allah akan mengabulkan hajatnya, minimum sebuah ampunan.” Dalam menanggapi hadits tersebut, al-Dimyathi mengutip pernyataan imam al Kurdi yang menyatakan bahwa Ulama’ berbeda pandangan dalam menanggapinya, sebagian Ulama’ menyatakan bahwa hadits tersebut memiliki beberapa jalan yang ketika dikumpulkan hadits tersebut sampai pada kategori hadits tentang keistimewaan beberapa amal. Sebagian Ulama’ yang lain, diantaranya Imam al Nawawi yang diikuti oleh al-Dimyathi didalam kitabnya menyatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits maudlu’. Al-Dimyathi menegaskan bahwa diantara bid’ah yang tercela adalah melaksanakan shalat pada malam pengharapan, yaitu pada malam Jum’at pertama dibulan Rajab dan malam tanggal 15 Sya’ban. 

Imam Ibnu Hajar al Haitami juga pernah ditanya seputar puasa dipertengahan bulan Sya’ban: Apakah puasa tersebut disunahkan berdasar hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang menyatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Ketika malam pertengahan bulan Sya’ban tiba, maka dirikanlah shalat pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah menurunkan Malaikat hingga tenggelam matahari”? dan apakah hadits ini shahih atau tidak?. Imam Ibnu Hajar menjawab: “Jika kalian menyatakan bahwa puasa tersebut adalah sunah, maka hal itu tidak pernah dituturkan oleh para pakar Fiqh.” Apakah yang dimaksud mendirikan shalat pada malam itu adalah shalat al Baraah atau bukan?, beliau menjawab dengan jawaban yang telah diulas oleh Imam Nawawi didalam kitab al Majmu’ yang menyatakan bahwa sesungguhnya shalat kebajikan (al Raghaib) adalah shalat yang berjumlah 20 raka’at yang dilakukan diantara maghrib dan isya’ pada malam Jum’at pertama dibulan Rajab dan shalat malam berjumlah 100 raka’at pada pertengahan bulan Sya’ban, keduanya merupakan bid’ah yang buruk dan tercela, dan janganlah terpedaya dengan penyebutan kedua shalat tersebut didalam kitab "Qutil Qulub" dan kitab "Ihya’ Ulumuddin", dan jangan pula terpedaya dengan hadits yang menyebutkan tentang keduanya, karena hal itu adalah batil, dan jangan pula terpedaya dengan pernyataan sebagian imam yang menyatakan kesunahan kedua shalat tersebut dalam karya mereka, karna itu adalah salah. Al Haitami menyatakan bahwa Imam Ibnu Abdus Salam secara husus mengarang sebuah kitab yang bagus guna menolak kedua shalat tersebut. 

Paparan tersebut diatas, tidak serta merta membantah keberadaan malam nishfus Sya’ban sebagai salah satu malam yang istimewa, karena paparan tersebut hanya membantah keberadaan shalat dengan tata cara sebagaimana tersebut diatas dan dilakukan secara berjama’ah, dan diberbagai literatur banyak dijumpai keterangan berdasarkan hadits yang menjelaskan tentang keistimewaan malam nisfus Sya’ban, diataranya sebagaimana yang dipaparkan oleh Imam Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al Mubarakfuri; Abu al ‘Ula didalam kitabnya (Tuhfah al Ahwadzi) yang menyebutkan sebuah hadits sayyidina Ali radliyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Ketika malam nishfus Sya’ban telah tiba, maka dirikanlah shalat pada malam hari dan berpuasalah pada siang harinya. Sesungguhnya pada malam itu (sejak terbenamnya matahari), Allah turun ke langit dunia dan bersabda: “Perhatikan, orang yang memohon ampunan pada malam ini, maka aku akan mengampuninya. Perhatikan, orang yang memohon rizki pada malam ini, maka aku akan melimpahkan rizkinya.’ Dan seterusnya hingga terbit fajar.” Al Mubarakfuri menegaskan bahwa hadits-hadits tersebut diatas, secara keseluruhan menjadi hujjah yang membantah dan mematahkan anggapan orang yang menyatakan bahwa tidak ada ketetapan sesuatu apapun (dalil) mengenai keistimewaan malam nishfus Sya’ban. 

Imam Syihabuddin; Ahmad bin Ahmad bin Salamah al Qulyubi juga menjelaskan bahwa disunahkan untuk meramaikan malam dua hari raya dengan berdzikir kepada Allah atau dengan melaksanakan shalat. Dan shalat yang paling istimewa untuk dilakasanakan adalah shalat Tashbih, dan bisa dicukupi dengan melaksanakan shalat yang paling agung (shalat fardlu), minimal melaksanakan shalat isya’ yang dilaksanakan secara berjama’ah serta berniat melaksanakan shalat subuh secara berjama’ah pula. Demikian juga pada malam nishfus Sya’ban dan malam pertama di bulan Rajab serta malam Jum’at, karena malam-malam tersebut adalah malam yang mustajab. 

Dengan demikian, jika yang dimaksud oleh saudara penanya adalah "shalat kebajikan, al Raghaib" dengan tata cara sebagaimana tersebut diatas, maka Ulama' berbeda pandangan sebagaimana berikut: 

• Segaian Ulama' menyatakan bahwa hal tersebut adalah dianjurkan dengan mengacu pada sebuah hadits yang memiliki beberapa jalan yang ketika dikumpulkan hadits tersebut sampai pada kategori hadits tentang keistimewaan beberapa amal.

• Sebagian Ulama' yang lain, diantaranya imam Nawawi, imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyathi, imam Ibnu Hajar al Haitami menyatakan bahwa hal tersebut adalah bid'ah yang tercela. 

Namun jika yang dimaksud adalah shalat sunah seperti shalat tasbih atau  shalat sunah mutlak yang dilakukan secara sendiri guna mendapatkan  kemurahan dari Allah kepada hamba-hambanya yang diturunkan pada malam  nishfus Sya’ban, maka hal itu adalah dianjurkan. Wallahu a’lam bis  shawab. 

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Preman Berr Tasbih: 

وأما صلاة شعبان فهي أن يصلي في ليلة الخامس عشر منه مائة ركعة، كل ركعتين بتسليمة، يقرأ في كل ركعة بعد الفاتحة قل هو الله أحد إحدى عشرة مرة. وإن شاء صلى عشر ركعات يقرأ في كل ركعة بعد الفاتحة قل هو الله أحد مائة مرة، فهذه أيضا مروية في جملة الصلوات، كان السلف يصلون هذه الصلاة ويسمونها صلاة الخير، ويجتمعون فيها، وربما صلوها جماعة.

وروي عن الحسن البصري رحمه الله أنه قال: حدثني ثلاثون من أصحاب النبي - صلى الله عليه وسلم - أن من صلى هذه الصلاة في هذه الليلة نظر الله تعالى إليه سبعين نظرة، وقضى له بكل نظرة سبعين حاجة أدناها المغفرة. قال العلامة الكردي: واختلف العلماء فيها، فمنهم من قال لها طرق إذا اجتمعت وصل الحديث إلى حد يعلم به في فضائل الأعمال. ومنهم من حكم على حديثها بالوضع، ومنهم النووي، وتبعه الشارح في كتبه.

~~~~~ ومنه الصلاة ليلة الرغائب أول جمعة من رجب، وليلة النصف من شعبان. إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (1/ 312, 313) 

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori: 

وَسُئِلَ نَفَعَ اللَّهُ بِهِ عن صَوْمِ مُنْتَصَفِ شَعْبَان هل يُسْتَحَبُّ على ما رَوَاهُ ابن مَاجَهْ أَنَّ النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم قال إذَا كانت لَيْلَةُ النِّصْفِ من شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فإن اللَّهَ يَنْزِلُ فيها لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا أو لَا يُسْتَحَبُّ وَهَلْ هذا الْحَدِيثُ صَحِيحٌ أو لَا وَإِنْ قُلْتُمْ بِاسْتِحْبَابِهِ فَلِمَ لم يَذْكُرهُ الْفُقَهَاءُ وما الْمُرَادُ بِقِيَامِ لَيْلِهَا أَهُوَ صَلَاةُ الْبَرَاءَةِ أَمْ لَا فَأَجَابَ بِأَنَّ الذي صَرَّحَ بِهِ النَّوَوِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ في الْمَجْمُوعِ أَنَّ صَلَاةَ الرَّغَائِب وَهِيَ ثِنْتَا عَشْرَةَ رَكْعَة بَيْن الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمُعَةٍ من شَهْرِ رَجَب وَصَلَاةُ لَيْلَةِ النِّصْفِ من شَعْبَانَ مِائَةَ رَكْعَةٍ بِدْعَتَانِ قَبِيحَتَانِ مَذْمُومَتَانِ وَلَا يُغْتَرُّ بِذِكْرِهِمَا في كِتَابِ قُوتِ الْقُلُوبِ وفي إحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ وَلَا بِالْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ فِيهِمَا فإن كُلَّ ذلك بَاطِلٌ وَلَا بِبَعْضِ من اُشْتُبِهَ عليه حُكْمُهُمَا من الْأَئِمَّةِ فَصَنَّفَ وَرَقَاتٍ في اسْتِحْبَابِهِمَا فإنه غَالِطٌ في ذلك وقد صَنَّفَ ابن عبد السَّلَامِ كِتَابًا نَفِيسًا في إبْطَالِهِمَا فَأَحْسَنَ فيه وَأَجَادَ . الفتاوى الفقهية الكبرى - (ج 2 / ص 80( 

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Ibnu Malik: 

ومنها حديث علي رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها فإن الله ينزل فيها لغروب الشمس إلى السماء الدنيا فيقول ألا من مستغفر فأغفر له ألا مسترزق فأرزقه ألا مبتلي فأعافيه ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر رواه بن ماجه وفي سنده أبو بكر بن عبد الله بن محمد بن أبي سبرة القرشي العامري المدني قيل اسمه عبد الله وقيل محمد وقد ينسب إلى جده رموه بالوضع كذا في التقريب  وقال الذهبي في الميزان ضعفه البخاري وغيره  . وروى عبد الله وصالح ابنا أحمد عن أبيهما قال كان يضع الحديث وقال النسائي متروك انتهى فهذه الأحاديث بمجموعها حجة على من زعم أنه لم يثبت في فضيلة ليلة النصف من شعبان شيء والله تعالى أعلم . تحفة الأحوذي - (ج 3 / ص 366( 

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Ro Fie: 

( تتمة ) يندب إحياء ليلتي العيدين بذكر أو صلاة وأولاها صلاة التسبيح . ويكفي معظمها وأقله صلاة العشاء في جماعة , والعزم على صلاة الصبح كذلك . ومثلهما ليلة نصف شعبان , وأول ليلة من رجب وليلة الجمعة لأنها محال إجابة الدعاء . حاشية قليوبي - (ج 1 / ص 359( 

 

Referensi:

1. I’anah al Thalibin. I/ 312, 313

2. Al Fatawa al Fiqhiyah al Kubra. II/ 80

3. Tuhfah al Ahwadzi. III/ 366

4. Hasyiyah Qulyubi. I/ 359 

========= 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Ro Fie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS Dan EDITOR: 

I. Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah

II. Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah